Menjadi Telemarketer Yang Speed, Simple dan Strong

Pernahkah anda menerima telpon dari seorang telemarketer yang meminta waktu dan anda menjawab, “Silakan”? Kalau begitu, beruntunglah ia menelpon anda sebagai calon pelanggannya. Sebab biasanya orang akan segera menjawab, ” Tidak ada waktu.” Sejauh yang saya tahu melalui perbincangan dengan para telemarketer, umumnya mereka tidak akan menanyakan apakah pelanggannya punya waktu atau tidak, “Tidak, saya tidak akan meminta waktu karena kalau mereka menjawab ‘TIDAK’ lalu saya mau apa?”

Sebagai salah satu pemasar di bidang online, saya hampir mendapat telepon dalam satu minggu itu minimal 2 sampai 3 kali dari seorang marketer. Biasanya mereka minta waktu untuk janjian ketemu untuk menjelaskan sesuatu. Yang lebih menjengkelkan ketika saya todong dengan perkataan “buat apa?”. Umumnya mereka menjawab, “untuk itulah saya ingin ketemu bapak”. Setelah mendengar jawaban tersebut biasanya saya memberikan jawaban aman dengan mengatakan sedang berada di luar kota. Dan mereka balik memberikan jawaban,” kapan balik pak?”. Karena sudah merasa jengkel saya hanya memberikan jawaban,”oh, masih lama mungkin tahun depan. Itu juga saya sudah ke kota yang lain”. Barulah mereka berhenti bertanya. Langsung mengucapkan terima kasih.

Bicara tentang waktu, orang sering membuat metafora ‘waktu adalah uang’, karena benar-benar sangat berharga. Sebab sekali anda menggunakannya, maka sekali terlewati akan terlewati, tidak perduli apapun jenis kegiatan yang anda lakukan. Celakanya, yang namanya waktu bukanlah benda nyata, ia hanya ada dalam benak kita. Lalu apa yang membuatnya begitu berharga? Saya pikir tidak perlu dibahas disini, karena apapun argumentasinya, buat beberapa orang waktu memang sangat berharga.

Guru saya pernah mendapatkan ‘pelajaran berharga’ dari seorang telemarketer dan mungkin berguna untuk menajamkan sales anda, bila produk atau jasa anda dijual melalui ‘scripts’ dan ‘cold calling’. Perbincangan berjalan kurang lebih seperti ini:
“Halo, boleh bicara dengan Bapak Ali ?” “Saya sendiri.” “Bapak Ali, saya paham Bapak sering sekali menerima telpon setiap harinya, dari salesman, telemarketer, dan semacamnya. Saya akan jujur mengatakan bahwa ini adalah telemarketing. Saya hanya minta waktu Bapak 28 detik untuk mencari tahu apakah Bapak tertarik dengan tawaran saya. Di akhir 28 detik, bila Bapak tertarik akan kita teruskan atau saya akan menghubungi Bapak kembali lain waktu. Bila Bapak tidak tertarik diakhir 28 detik, saya akan mengatakan, ‘TERIMA KASIH BANYAK, BAPAK’ dan mengakhiri pembicaraan ini. Bolehkan saya minta waktu 28 detik, Bapak?”

Jujur bahwa saya cukup sering menerima panggilan telpon. Biasanya jarang sekali yang berakhir kurang dari 10 menit oleh banyak sebab. Orang ini simple, speed, strong. Kenapa harus 28 detik, tidak 30 detik, misalnya? Kenapa tidak setengah menit, atau beberapa menit umpamanya? Hal ini punya ‘strong’ efek buat saya. Simple, karena tawarannya sederhana: kalau tertarik, pembicaraan akan diteruskan atau dia telpon lagi dan bila tidak, tutup telpon sambil mengucapkan terima kasih. Speedy, karena ukurannya cuma detik dan saya cuma cukup menjawab ‘tidak tertarik’.

Secara pribadi saya pernah menerapkan apa yang pernah dialami oleh guru saya ini. Saat telemarketer itu gotot ingin menjelaskan sesuatu. Saya katakan dengan nada cepat bahwa jelasain saja di telepon. Waktunya 60 detik. Bila saat dijelaskan nanti saya tidak tertarik maka saya akan mengatakannya. Tak lupa saya meminta persetujuan telemarketer ini. Umumnya setelah mereka setuju maka selanjutnya nada bicaranya lebih cepat dan terarah. Sayang saat pertengahan saya sering mengatakan “tidak tertarik” dan telepon dimatikan.

Orang ini memakai NLP meski belum tentu menyadarinya. Dalam workshop sering saya katakan, mintalah waktu. Sebab bila mereka tidak ada waktu dan anda tetap nyerocos, belum tentu mereka akan mendengarkan apapun yang anda katakan. Kalau mereka mengatakan tidak punya waktu, tanyakan kapan waktu yang tepat untuk menelponnya kembali.

Mungkin beberapa dari anda akan bergumam, “Bapak, tidak sesederhana itu proses telemarketing.”
Namun saya yakin sesederhana itu, hanya saja anda belum pernah melakukannya. Cobalah, dan ukur hasilnya. Sebagai bahan riset cobalah membagi ‘prospecting calls’ anda menjadi dua kolom. Misalkan anda merencanakan 500 calls. Yang 250 anda lakukan dengan cara diatas, lalu amati hasilnya, sedangkan yang 250 lagi anda lakukan dengan cara yang biasanya anda lakukan.

Salah satu presupposition NLP mengatakan: “If what you are doing is not working, do something else.”

(diolah dari sumber http://indonlp.com/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s