NLP Praktis#12: Mama, aku bukan ROBOT?

Curahan Hati seorang Anak:

Ha, Senin pagi lagi. Aku sudah bangun pukul enam pagi. Mandi, gosok gigi dan sarapan pagi. Langsung ke sekolah sampai pukul dua belas siang. Begitu pulang sekolah aku istirahat sebentar langsung pergi ke les. Ini yang aku lakukan setiap pagi. Hanya hari libur atau Sabtu dan Minggu aku tidak melakukan kegiatan apapun juga. Aku bosan banget dengan segala kegiatan yang aku lakukan ini.

Bila nilai ku jelek. Mama selalu memberikan teguran kepadaku supaya tanya kepada guru lesku atau aku diberikan tambahan les yang lain. Bosannnnn. Aku ini seperti mesin yang hanya mau mengikuti kehendak Papa dan Mama saja. Aku kepingin cepat selesai sekolah biar aku bebas dari aturan yang membosankan ini.

Curahan Hati seorang Mama:

Sialan, anakku semester lalu tidak meraih rangking satu di sekolahnya. Gimana caranya supaya anakku meraih rangking satu di sekolahnya? Malu juga bila mendengar omongan dari ibu-ibu yang membanggakan anaknya yang meraih rangking satu. Atau tempat les anakku selama ini tidak bermutu. Ntar, aku carikan dia tempat les yang terbaik.

Mungkin juga aku terlampau lunak sama anakku. Biar aku kurangi saja jam main anakku. Bila perlu dia nggak usah main sama sekali. Pokoknya ankku haru ranging satu di semester ini. Malu sama Mama yang lain.

Jadi siapa yang bertanggung jawab?

Menurut anda bila anda melihat curahan hati anak dan mama di atas siapa sih yang harus dan wajib bertanggung jawab? Anak atau Mama? Atau dua-duanya?

Sebagai orang tua kita bertanggung jawab terhadap perkembangan si anak. Caranya bukan hanya berpatokan terhadap nilai yang didapat di sekolah. Tetapi sebagai orang tua juga butuh dan perlu melatihnya supaya mampu secara mandiri belajar bertanggung jawab.

Gimana caranya supaya si anak mampu mandiri? Konon katanya orang tua jaman dulu selalu mendidik anaknya dengan cara bergiliran diberi tugas dan tanggung jawab dari mencuci baju, mencuci piring, membersihkan tempat tidur, mengepel, menyapu dan tugas-tuga rumah tangga lainnya.

Inil merupakan salah satu cara supaya secara perlahan anak belajar bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Coba bayangkan ketika anak anda ke luar negeri. Anda sebagai orang tua tidak perlu repot lagi. Karena si anak sudah TAHU dan MENGERTI tugas sehari-hari yang butuh dan perlu dia lakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s