NLP Praktis #11: Benarkah ini sebuah KUTUKAN?

Puluhan tahun yang lalu di sebuah kampung kecil. Seorang anak kecil yang masih duduk di kelas 5 SD. Melihat dan mendengar sebuah kegaduhan yang membuat kuping menjadi berisik. Terlebih kegaduhan ini hanya sebuah pertengkaran kecil antara seorang ibu dan anak perempuan. Yang menjadi daya tarik pertengkaran tersebut adalah kata-kata yang dikeluarkan si ibu tersebut benar-benar membuat kuping menjadi merah.

Si Ibu entah sadar atau tidak sadar dengan kemarahan yang cukup tinggi. Memaki si anak perempuannya dengan kata-kata yang sangat membuat sakit hati. Kata-kata tersebut benar-benar melecehkan si anak. Bahkan dapat merusak jati diri si anak. Dengan menyerocos si ibu mengatakan anaknya adalah seorang pelacur, sama seperti bapaknya yang suka kawin lagi. Kata tersebut diulang berkali-kali dengan intonasi yang cukup sekali.

Si anak hanya diam saja tidak merespon sama sekali. Tapi dari wajahnya terlihat mukanya pucat sekali. Mungkin karena malu dilihat oleh beberapa orang. Atau dia merasa sangat marah sekali. Tapi dia tidak berbuat apa-apa terhadap ibunya ini.

Sementara itu di awal tahun 2010 saya sedang asyik mengikuti sebuah kelas coaching NLP di sebuah kota di Sumatera. Salah satu bahasan yang sangat menarik dan membuat saya berpikir ulang adalah tentang  kehidupan manusia saat ini merupakan hasil akibat dari tindakan kita sendiri. Dimana tindakan adalah hasil daripada keputusan yang kita ambil dari pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan merupakan akibat langsung oleh kata-kata yang masuk ke dalam diri manusia melalui VAK yang dimilikinya.

Sejak mengikuti kelas ini saya lebih sadar dalam menggunakan kata-kata. Terutama kata-kata yang sering saya ucapkan ke dalam diri saya sendiri. Dan kata-kata yang sering saya ucapkan kepada anak-anak dan istri. Saya pun jadi ingat legenda Malin Kundang. Dimana ibu si Malin mengutuk anaknya menjadi batu. Begitu dahsyatnya kata-kata sehingga membawa dampak bagi si anak langsung menjadi batu.

Walaupun ini hanya sebuah dongeng setidaknya ini adalah sebuah pertanda bahwa kita tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kurang bermanfaat bagi kita sendiri. Mulai sekarang berlatihlah mengucapkan kata-kata yang bermanfaat. Dan nikmatilah kehidupan anda akan membawa dampak perubahan. Saya sudah membuktikannya sendiri.

Tahukah anda apa yang terjadi sama si anak kecil ini? Kata-kata si Ibu benar-benar terjadi si anak menjadi istri muda dari seorang yang sudah beristri tiga. Dan bukan hanya si anak saja. Kakak laki-lakinya yang paling besar pun sudah menikah lagi. Sama persis dengan kutukan si IBU. Jadi apakah anda setuju bahwa ini sebuah kutukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s