NLP Praktis #9: MAAF, anda masih meNUMPANG HIDUP

Saat bersama memberikan materi learning house tentang mengenalkan Sumber Daya Manusia. Saya sungguh tersentak kaget. Karena salah satu dari teman baik saya, Romo Ndobosi  ketika mengajar di depan kelas. Dengan berani menuliskan sebuah kalimat yang berbunyi, “Maaf, anda masih Menumpang Hidup”.

Tulisan ini membuat peserta kaget. Juga kami yang berada di belakang pun menjadi tersinggung. Kok berani-beraninya orang ini membuat sakit hati peserta.  Bukan hanya peserta yang sakit hati. Saya pun menjadi sakit hati ketika membaca tulisan tersebut. Membuat sebuah menjadi panas. Dan sebuah tohokan yang cukup dalam menembus hati saya secara pribadi.

Kata-kata yang muncul dalam pikiran dan perasaan saya adalah  apakah benar saya masih menumpang hidup? Langsung saja pikiran saya mengakses data ketika awal saya dan pacar memutuskan menikah. Kami ketika itu belum dapat hidup secara mandiri. Kami benar benar benar masih menumpang hidup kepada orang tua.

Sudah hidup menumpang kami masih tidak TAHU DIRI suka minta ini-itu. Untung deh orang tua masih baik. Padahal mungkin dalam hati mereka dongkol juga. Kok, sudah disekolahkan sampai sarjana. Tidak dimanfaatkan ilmunya? Apa sih sebenarnya maunya anakku ini? Disuruh melamar kerjaan nggak mau? Katanya bisnis tapi kok penghasilannya nggak jelas seperti lampu yang byar prêt. Kadang ada, kadang tidak.

Ketika mendapat kerjaan pun saya tidak menghasilkan prestasi apa-apa. Apakah kerjaan tu hanya merubah status di ktp saja? Dari pengganguran menjadi seorang BURUH atau KARYAWAN? Bila benar saya memutuskan menjadi seorang KARYAWAN sebenarnya TUGAS saya adalah membuat sebuah KARYA sehingga perusahaan menjadi UNTUNG. Ini sebaliknya saya masih mau diminta belas kasihan sama BOSS.

Sepatutnya dipertanyakan saya ini belum pantas disebut BURUH atau KARYAWAN. Harusnya saya ini statusnya diturunkan lebih rendah lagi. Jujur saya katakan sebenarnya saya ini masih meNUMPANG HIDUP sama perusahaan. Lha wong, saya nih suka menyuruh-yuruh orang. Sedangkan diri sendiri nggak mau menunjukkan KARYA. Bila terlambat GAJIan. Saya sudah ngomel kemana-mana. Bila lembur sedikit, saya sudah marah-marah. Bilang banyak urusan, mau pergi sama anak dan istri.

Memang benar saya nih nggak pantas menyandang status BURUH atau KARYAWAN di KTP. Sebaiknya saya datang kembali ke kelurahan. Mohon diubah status saya menjadi PENGGANGGURAN. Jadi aman kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s