NgeNLP ala Budaya Nusantara (2)

Hai pembaca, apa kabar? Terima kasih banyak atas dukungannya terhadap penulisan artikel NLP yang bersetting budaya nusantara ini. Saya TAHU bahwa masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut supaya artikel yang saya tulis ini menjadi sebuah trigger untuk lebih membangkitkan cinta terhadap kebudayaan Indonesia. Saya merindukan bila ada teman-teman yang dapat mengupas tuntas kebudayaan lain seperti seni tari KECAK BALI, seni DULMULUK PALEMBANG, seni WAYANG KULIT, seni JAIPONGAN khas JAWA BARAT dan tentu saja masih banyak kebudayaan lain yang perlu kita lestarikan.

Baik kita teruskan lanjutan dari  artikel pertama. Bilamana pada artikel pertama saya mencoba melakukan pembahasan pada kebudayaan BATAK (SUMATERA UTARA) dengan tradisi mewariskan budaya PESTA ADAT secara turun termurun. Maka pada artikel kedua ini saya mencoba melakukan pembahasan pada kebudayaan PALEMBANG ( SUMATERA SELATAN). Apa yang saya bahas kali ini?

TRADISI KELAKAR

Ya, pada tulisan kali ini saya mencoba membahas tentang kebiasaan KELAKAR yang sering dilakukan oleh masyarakat Palembang. Lebih tepatnya BUDAK PALEMBANG(baca=orang palembang). Walaupun seni kelakar ini jugo banyak dilakukan oleh masyarakat lain. Seperti budaya CINO dengan istilah “kongkow-kongkow”. Tapi kali ini pasti teraso IWAKNYO (baca =lebih istimewa, lebih enak) dibandingken yang lain. Salah satu seni kelakar Palembang yang sering dipentaskan untuk wisatawan adalah DULMULUK. Dimana dalam DULMULUK , seni kelakar ini menggunakan bahasa Palembang asli dan dikombinasikan dengan  berbalas pantun. Bagi masyarakat Palembang tentu ingat salah satu tokoh DULMUK yang cukup terkenal diantaranya adalah Wak YA dan Wak PET.

Arti dari kata KELAKAR, menurut kamus bahasa Indonesia online mempunyai makna perkataan yg bersifat lucu untuk membuat orang tertawa (gembira), lawak, olok-olok; atau senda gurau.

Adapun tujuan dari kelakar adalah mengakrabkan diri satu sama lain (building raport). Lebih tepatnya menurut istilah Palembang “Omongan itu semasukan”(saling melakukan raport antara lawan bicara).  Apabila sebuah kelakar terjadi biasanya waktu tidak terasa. Sambil ditemani secangkir kopi ditambah pempek dos. Wah, semakin mantap dan kelakar pun semakin awet. Tema yang selalu dikelakarin seputar keluarga, pekerjaan, kehidupan sehari-hari dan hal-hal lain yang up to date.

SAPAAN KHAS

Nah, yang ini membuat BUDAK PALEMBANG itu beda dengan yang lain. Apabila saat bertemu atau memulai sebuah pembicaraan. Biasanya orang menyapa dengan perkataan,”APA KABAR?”. Bagi kami BUDAK PALEMBANG itu biaso bae. Dak katek cukonyo. Yang ini baru benar-benar mantap. Bila orang Palembang asli pasti ketemu dengan orang Palembang juga. Mereka pasti mempunyai salam pembuka yang khas. Yaitu ” APO LOKAKNYO? “. Artinya ada peluang apa? Sehingga sering isi dari sebuah KELAKAR bukan hanya didominasi oleh gosip belaka. Tapi juga peluang-peluang apa saja yang dapat digaweken (baca=dikerjakan) sehingga menghasilkan duit. Istilah kerennya dari NGOBROL saja dapat menghasilkan UANG.

Bila sebuah kelakar tidak mempunyai arah yang jelas. Sering disebut dengan istilah KELAKAR BETHOK(baca=omong besar saja).

TAHAPAN NGELAKAR

Dimulai dengan sapaan khas “ APO LOKAKNYO?” Menunjukkan tuan rumah siap menerima kita dengan tangan terbuka dan siap untuk diajak mengobrol. Bila orang yang diajak kelakar “omongannyo semasukan” atau cocok maka biasanya pihak tuan rumah mengeluarkan secangkir kopi hangat dan makanan kecil seperti pempek, pisang goreng dll. Sebenarnya ini sebuah kode rahasia (unconcious signal) yang dikirimkan pihak tuan rumah bahwa dia sangat TERTARIK dengan pembicaraan kita.

Biasanya saat pertama kali kelakar dan memulai perkenalan, mereka memanggil kita dengan sebutan Bapak atau Ibu. Bila sudah merasa “semasukan” (saling percaya dan tanggung jawab) maka nama pangilan kita pun berubah menjadi sebutan KANDO (Kakak) atau DINDO (adik). Ini menunjukkan mereka menganggap kita seperti keluarga sendiri. Atau bahasa Palembangnyo disebut berDULUR (bersaudara).

Salah satu hal yang sangat menarik ada beberapa linguistic / kata tertentu yang sering diucapkan saat mereka sudah merasa cocok dan dekat dengan kita. Kata-kata yang diucapkan seperti :

  • Gampanglah….
  • Pacak diatur tu….(dapat dikompromikan)
  • Kito ini bedulur ….(kita ini bersaudara)
  • Mudahlah….
  • Kecik bacoannyo tu…(mudah dilakukan)

Jadi jelas sekali apabila kata-kata tersebut sudah diucapkan oleh pihak tuan rumah mempunyai arti mereka sudah merasa dekat dengan kita. Sehingga segala urusan dapat diselesaikan dengan mudah.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita demi kemajuan budaya Indonesia. Nantikan artikel selanjutnya. Selamat Membumikan NLP dengan budaya Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s